SABAT SEBAGAI WAKTU KHUSUS DENGAN TUHAN

23Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian. 24Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:23-24)

Bacaan Alkitab
Imamat 25-26

Pada suatu hari, seorang ayah mengajak anaknya berjalan-jalan ke taman. Di sepanjang perjalanan, sang ayah bercerita dengan penuh semangat tentang berbagai hal, ia muai menceritakan tentang keindahan bunga, tentang burung yang berkicau, bahkan tentang pengalaman hidupnya. Namun, anak itu terus menunduk, sibuk dengan ponselnya, hanya sesekali mengangguk tanpa benar-benar mendengar. Akhirnya, sang ayah berhenti dan dengan lembut berkata, “Nak, aku ingin waktu bersamamu, bukan hanya tubuhmu yang ada di sini, tapi hatimu juga.” Bukankah sering kali kita bersikap seperti anak itu terhadap Tuhan? Kita mungkin hadir dalam ibadah, membuka Alkitab, atau berdoa, tetapi hati dan pikiran kita melayang ke hal-hal lain. Kita memikirkan pekerjaan, media sosial, masalah hidup, atau bahkan rencana- rencana duniawi kita. Tuhan tidak hanya menginginkan keberadaan fisik kita, tetapi juga hati dan perhatian kita yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya. Yesus berkata kepada perempuan Samaria bahwa Bapa mencari penyembah yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Penyembahan sejati bukanlah sekadar hadir dalam ibadah atau mengikuti rutinitas keagamaan, melainkan memberi hati kita sepenuhnya kepada Tuhan. Ibadah yang sejati terjadi ketika hati kita benar-benar terhubung dengan-Nya, bukan sekadar menjalankan kewajiban.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menetapkan Sabat sebagai hari perhentian, bukan hanya untuk beristirahat dari pekerjaan, tetapi juga sebagai waktu khusus untuk menikmati hadirat-Nya. Ini bukan sekadar aturan agama, tetapi rancangan Tuhan agar manusia tidak kehilangan hubungan dengan-Nya di tengah kesibukan dunia. Sayangnya, di zaman ini, banyak orang merasa terlalu sibuk untuk menyediakan waktu bagi Tuhan. Ada yang menganggap persekutuan dengan Tuhan sebagai beban, bukan sebagai kebutuhan. Namun, jika kita mengasihi seseorang, bukankah kita akan rela menyediakan waktu untuknya? Demikian pula dengan Tuhan. Jika kita sungguh- sungguh mengasihi-Nya, maka menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan bukanlah hal yang berat, melainkan sebuah sukacita. Hari ini, mari bertanya pada diri kita sendiri: Apakah aku benar-benar menyediakan waktu khusus bagi Tuhan, atau hanya memberinya sisa-sisa waktu setelah semua urusanku selesai? Tuhan rindu agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang penuh kasih, bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai ungkapan cinta kita kepada-Nya.
Doa: Tuhan yang penuh kasih, aku menyadari bahwa sering kali aku lebih sibuk dengan urusanku sendiri dan kurang menyediakan waktu untuk-Mu. Ampunilah aku jika hatiku tidak selalu tertuju kepada-Mu dalam ibadahku. Tolong aku untuk belajar menyediakan waktu khusus bersama-Mu, bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai kebutuhan dan sukacita. Biarlah setiap ibadahku menjadi kesempatan untuk lebih mengenal dan mengasihi-Mu. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin. (MPN)