MENGHIDUPI IBADAH SEBAGAI GAYA HIDUP

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Bacaan Alkitab
Bilangan 1-3

Gaya hidup adalah pola kebiasaan yang membentuk cara seseorang menjalani hidup sehari-hari. Ini mencakup bagaimana seseorang bekerja, beristirahat, berinteraksi dengan orang lain, dan mengambil keputusan. Gaya hidup seseorang menunjukkan nilai dan prioritas yang ia pegang dalam hidupnya. Dalam dunia saat ini, gaya hidup sering dikaitkan dengan tren, kebiasaan konsumsi, dan preferensi individu. Namun, sebagai orang percaya, kita diajak untuk memiliki gaya hidup yang berbeda dengan dunia yakni: gaya hidup yang mencerminkan hubungan kita dengan Tuhan. Menghidupi ibadah sebagai gaya hidup berarti lebih dari sekadar menghadiri kebaktian di gereja pada hari Minggu. Ibadah bukanlah aktivitas yang terbatas pada waktu dan tempat tertentu, tetapi sesuatu yang mengalir dalam setiap aspek kehidupan kita. Ibadah bukan hanya tentang nyanyian pujian atau doa, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani hidup sebagai persembahan bagi Tuhan. Ini berarti bahwa pekerjaan kita, cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana kita menghadapi tantangan hidup semuanya harus menjadi bagian dari penyembahan kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1, Paulus berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Kata “persembahan” di sini merujuk pada konsep korban dalam Perjanjian Lama, di mana umat Israel mempersembahkan hewan terbaik mereka kepada Tuhan sebagai bentuk ibadah. Namun, di dalam Kristus, kita tidak lagi diminta untuk membawa hewan korban, melainkan mempersembahkan diri kita sendiri yaitu hidup kita, pekerjaan kita, waktu kita, bahkan cara kita berbicara dan berperilaku. Ibadah sejati berarti setiap aspek kehidupan kita menjadi bagian dari penyembahan kepada Tuhan. Ini berarti cara kita bekerja, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita menggunakan waktu, bahkan cara kita menghadapi tantangan hidup semuanya harus mencerminkan kemuliaan Tuhan. Seorang murid Kristus tidak hanya beribadah saat di gereja, tetapi juga dalam kesehariannya. Karena untuk bersekutu dengan Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Menghidupi ibadah sebagai gaya hidup berarti mengutamakan Tuhan dalam segala hal. Ketika kita berbicara, apakah kata-kata kita membangun dan mencerminkan kasih Tuhan? Ketika kita bekerja, apakah kita melakukannya dengan integritas dan semangat seperti bekerja untuk Tuhan? Ketika kita menghadapi masalah, apakah kita bersandar kepada Tuhan atau mengandalkan kekuatan sendiri? Hal ini bukan berarti kita harus hidup dalam kesempurnaan, tetapi kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Ibadah yang sejati adalah ketika kita dengan sukacita melayani sesama, menunjukkan kasih kepada orang-orang di sekitar kita, dan menjalani hidup dengan hati yang penuh syukur kepada Tuhan. Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah aku hanya beribadah pada hari Minggu, ataukah aku benar-benar menjadikan hidupku sebagai ibadah yang terus- menerus? Tuhan menginginkan lebih dari sekadar rutinitas keagamaan; Ia menghendaki hati yang sepenuhnya menyerah kepada-Nya dan hidup yang dipersembahkan untuk kemuliaan-Nya.
Doa: Tuhan yang Maha Kasih, aku bersyukur atas kesempatan untuk mengenal-Mu dan beribadah kepada-Mu. Tolong aku untuk tidak hanya menjadikan ibadah sebagai aktivitas mingguan, tetapi sebagai gaya hidup yang nyata dalam setiap aspek kehidupanku. Ajari aku untuk mengutamakan-Mu dalam pekerjaanku, dalam caraku berbicara, dalam hubunganku dengan orang lain, dan dalam setiap keputusan yang aku buat. Kiranya hidupku menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin. (MPN)