MENJADIKAN TUHAN SEBAGAI PUSAT IBADAH

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan oleh karena kehendak- Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”(Wahyu 4:11)

Bacaan Alkitab
Imamat 22-24

Ketika kita berbicara tentang ibadah, sering kali kita berpikir tentang musik yang menyentuh, suasana yang nyaman, atau penyampaian firman yang menarik. Tidak jarang, kita menilai ibadah dari bagaimana perasaan kita setelah mengikutinya, apakah kita merasa diberkati, dikuatkan, atau terhibur. Namun, apakah ibadah benar-benar tentang kita?
Kitab Wahyu membawa kita kepada gambaran ibadah surgawi. Rasul Yohanes melihat takhta Allah yang dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang tidak henti-hentinya menyembah- Nya siang dan malam. Mereka berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang!” (Wahyu 4:8). Di sekitar takhta, para tua-tua melemparkan mahkota mereka dan bersujud di hadapan-Nya, mengakui bahwa hanya Tuhan yang layak menerima segala pujian, hormat, dan kuasa.
Gambaran ini menegaskan bahwa ibadah bukanlah tentang kita, melainkan tentang Tuhan. Kita datang bukan untuk mencari kenyamanan atau hiburan, tetapi untuk memberikan kemuliaan kepada Dia yang layak menerima segala pujian dan hormat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa dengan mudah terjebak dalam pola pikir yang salah tentang ibadah. Kita mungkin bertanya: Apakah musiknya sesuai dengan seleraku? Apakah khotbahnya menarik? Apakah suasana ibadahnya nyaman? Tanpa sadar, kita menjadikan diri kita sebagai pusat ibadah, bukan Tuhan.
Namun, ibadah sejati bukan tentang bagaimana kita merasa, tetapi tentang bagaimana kita memberi. Memberi hormat, memberi hati, dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika kita datang dengan hati yang siap memuliakan Tuhan, kita akan mengalami sukacita yang lebih besar dibandingkan sekadar mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.
Seperti para tua-tua dalam Wahyu 4, kita dipanggil untuk menyerahkan “mahkota” kita, segala keberhasilan, kebanggaan, dan kepentingan diri kita di hadapan Tuhan. Ibadah sejati terjadi ketika kita berkata, “Tuhan, aku datang bukan untuk mencari apa yang aku inginkan, tetapi untuk memberikan yang terbaik bagi-Mu.”
Mari kita bertanya pada diri kita: Kepada Siapa Hatiku Tertuju? Saat aku beribadah, apakah aku lebih banyak memikirkan hal-hal di sekitarku, atau benar-benar memusatkan hatiku kepada Tuhan? Apakah aku masih sering mengeluh tentang suasana ibadah, ataukah aku datang dengan hati yang penuh ucapan syukur?
Mari kita belajar untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat ibadah kita. Bukan perasaan kita yang utama, bukan pengalaman kita yang utama, tetapi Tuhan yang utama. Dialah yang layak menerima segala pujian, hormat, dan kemuliaan dari hidup kita.
Doa: “Tuhan, ampuni aku jika selama ini aku sering menjadikan ibadah tentang diriku sendiri, tentang apa yang aku rasakan, tentang kenyamananku, dan tentang kebutuhanku. Ajar aku untuk datang dengan hati yang tulus, untuk memberikan pujian yang sejati bagi- Mu. Engkau layak menerima hormat dan kemuliaan, karena Engkaulah Tuhan yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Aku ingin menyembah-Mu dengan sepenuh hati, karena Engkaulah pusat dari segala sesuatu. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.” (MPN)