PENYEMBAHAN YANG BENAR DI HADAPAN TUHAN
“Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14)
Bacaan Alkitab
Imamat 20-21
Ibadah adalah waktu di mana kita datang menghadap Tuhan untuk menyatakan kasih, penghormatan, kekaguman, dan ketergantungan kita kepada-Nya. Namun, dalam perjalanan iman kita, ada bahaya besar yang sering kali mengintai tanpa kita sadari, yaitu: ibadah yang dilakukan hanya untuk pamer kesalehan, bukan karena kasih yang tulus kepada Tuhan. Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang yang datang ke Bait Allah untuk berdoa. Yang pertama adalah seorang Farisi, seorang pemimpin agama yang dihormati karena kesalehannya. Dengan penuh percaya diri, ia mengangkat kepalanya dan berdoa, mengucap syukur bukan karena kebaikan Tuhan, tetapi karena dirinya sendiri. Ia membanggakan puasanya, perpuluhannya, dan hidupnya yang dianggap lebih baik daripada orang lain. Di sisi lain, ada seorang pemungut cukai, seorang yang dipandang hina oleh masyarakat karena pekerjaannya yang sering dihubungkan dengan penipuan dan ketidakadilan. Tidak seperti orang Farisi, ia bahkan tidak berani menatap ke langit. Dengan penuh penyesalan, ia memukul dadanya dan hanya berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lalu, siapa yang dibenarkan oleh Tuhan? Bukan orang Farisi yang merasa dirinya lebih baik, tetapi pemungut cukai yang datang dengan hati yang hancur. Yesus menutup perumpamaan ini dengan pernyataan yang tegas, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14).
Perumpamaan ini adalah teguran bagi setiap kita yang mungkin secara tidak sadar menjadikan ibadah sebagai ajang pembuktian diri. Kita bisa saja rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan, bahkan terlihat sangat rohani di mata orang lain, tetapi apakah hati kita benar-benar tertuju kepada Tuhan? Sering kali, kita tanpa sadar bersikap seperti orang Farisi. Kita membandingkan diri dengan orang lain, merasa lebih baik karena kita lebih sering berdoa, lebih banyak melayani, atau lebih disiplin dalam menjalankan ibadah. Namun, sadarkah kita bahwa Tuhan tidak melihat banyaknya ibadah yang kita lakukan, melainkan sikap hati kita saat datang kepada-Nya.
Pemungut cukai dalam perumpamaan ini mengajarkan kepada kita bahwa penyembahan yang sejati tidak dimulai dari kebanggaan akan perbuatan kita, melainkan dari kesadaran bahwa kita adalah orang berdosa yang sangat membutuhkan anugerah Tuhan. Ketika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, mengakui kelemahan kita, di situlah kita benar-benar beribadah dengan benar. Mari bertanya pada diri sendiri: Bagaimana Sikap Hatiku? Ketika kita berdoa, apakah kita benar-benar datang untuk mencari Tuhan, ataukah hanya menjalankan kebiasaan belaka? Saat kita menyembah, apakah kita melakukannya dengan hati yang penuh kasih kepada Tuhan, ataukah kita hanya ingin terlihat sebagai orang yang rohani?
Tuhan tidak tertarik pada kata-kata yang indah dalam doa kita jika hati kita tidak sungguh-sungguh tertuju kepada-Nya. Tuhan tidak terkesan dengan betapa seringnya kita datang ke gereja jika kita melakukannya tanpa hati yang benar. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang rendah, yang menyadari bahwa tanpa-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mari kita belajar untuk datang ke hadapan Tuhan dengan sikap seperti pemungut cukai, seorang yang datang bukan dengan kesombongan rohani, tetapi dengan kerendahan hati. Hanya mereka yang merendahkan diri di hadapan Tuhan yang akan ditinggikan oleh-Nya.
Doa: “Tuhan, aku datang ke hadapan-Mu bukan karena aku layak, tetapi karena aku membutuhkan-Mu. Ampuni aku jika selama ini aku beribadah hanya sebagai rutinitas atau bahkan untuk membanggakan diri. Aku ingin menyembah-Mu dengan hati yang tulus, dengan kerendahan hati yang sejati. Ajar aku untuk selalu sadar bahwa semua yang aku miliki hanyalah karena anugerah-Mu. Terimalah ibadahku, Tuhan, bukan karena kebaikanku, tetapi karena kasih setia-Mu yang besar. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.” (MPN)