WASPADA TERHADAP FORMALITAS DALAM IBADAH

“Dan Tuhan berfirman: Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13)

Bacaan Alkitab
Imamat 18-19

Hidup dalam dunia saat ini, seringkali membuat kita terjebak dalam rutinitas. Bangun pagi, bekerja, makan, tidur dan hal itu berulang setiap hari. Semuanya berjalan otomatis tanpa banyak berpikir. Hal yang sama bisa terjadi dalam ibadah. Kita datang ke gereja, menyanyikan lagu-lagu pujian, mendengarkan firman, bahkan mungkin melayani, tetapi hati kita didapati tidak benar-benar terhubung dengan Tuhan.
Tuhan pernah menegur bangsa Israel melalui nabi Yesaya: “Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan” (Yesaya 29:13). Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa ibadah sejati bukan sekadar tentang apa yang kita lakukan secara lahiriah, tetapi tentang hati yang benar-benar haus dan mencari Tuhan.
Bangsa Israel pada waktu itu tetap beribadah, mempersembahkan korban, dan menjalankan hukum-hukum agama. Namun, Tuhan melihat bahwa hati mereka sangatlah kosong. Mereka hanya mengikuti tradisi tanpa memiliki relasi yang sungguh dengan Tuhan. Ini adalah persoalan besar dan bahaya bagi kita juga. Kita mungkin terbiasa berdoa sebelum makan, membaca Alkitab setiap pagi, atau menghadiri ibadah setiap minggu, tetapi apakah hati kita benar-benar tertuju kepada Tuhan?
Seringkali, kita datang ke gereja karena kewajiban, bukan karena adanya kerinduan. Kita menyanyikan lagu-lagu pujian dengan suara keras, tetapi pikiran kita melayang ke pekerjaan, tugas, atau media sosial. Kita melipat tangan saat berdoa, tetapi hati kita dingin. Jika kita tidak berhati-hati, ibadah kita bisa menjadi ritual kosong, hanya formalitas tanpa adanya makna.
Tuhan tidak menginginkan ibadah yang hanya sebatas kebiasaan atau tradisi. Dia mencari hati yang benar-benar haus akan hadirat-Nya. Dia ingin kita datang kepada- Nya dengan kesungguhan, bukan karena terpaksa atau sekadar mengikuti aturan.
Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku datang ke hadapan Tuhan dengan hati yang rindu atau hanya sekadar rutinitas belaka? Jika selama ini ibadah terasa hambar, mungkin kita perlu kembali pada inti dari ibadah itu sendiri yaitu perjumpaan dengan Tuhan. Saat kita menyadari bahwa ibadah bukan sekadar aktivitas, tetapi sebuah hubungan dengan Tuhan yang hidup, maka ibadah kita akan dipenuhi dengan sukacita dan makna.
Doa: “Tuhan, ampunilah aku jika selama ini aku beribadah hanya sebagai rutinitas tanpa hati yang sungguh mencari-Mu. Aku tidak ingin hanya memuliakan-Mu dengan mulutku, tetapi dengan seluruh hatiku. Pulihkanlah kerinduanku untuk selalu mendekat kepada-Mu dan mengalami hadirat-Mu dalam setiap ibadahku. Biarlah ibadahku bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah perjumpaan nyata dengan Engkau. Amin.” (MPN)