1 Januari 2021
Mazmur 42-43
Rindu kepada Allah

Renungan
Perasaan apa yang kura rasakan memasuki 2021? Seharusnya sebagai anak Tuhan kita menaikkan syukur karena kasih setia-Nya membawa kita melewati tahun yang lama memasuki yang baru. Namun, kalau mau jujur, banyak di antara kita melewati tahun 2020 dengan hati yang penuh kegalauan. Karena akhirnya kita menyadari kita tak tahu hari esok kita! Memasuki 2021 mari coba tangkap perasaan pemazmur yang terungkap dari Mazmur 42-43 ini. Mungkin Kita bisa mengidentifikasikan diri kita dengan pemazmur.

Pemazmur merasa kesepian yang mendalam. Ia rindu akan Tuhan, tetapi Tuhan serasa jauh. Ia merasa haus akan Tuhan seperti rusa yang mendapati sungai yang kering. Ia rindu beribadah kepada-Nya, namun ia tidak memiliki kesempatan untuk itu. Mungkin pemazmur sedang ada di pembuangan jauh dari rumah Tuhan. Pemazmur merasa tertekan karena berada di tengah-tengah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan dan yang mencemooh imannya. “Di mana Allahmu?” demikian olok mereka. “Kalau Tuhanmu hidup, mengapa kamu menjadi tawanan kami?” (42: 4, 11) Sepertinya tuduhan mereka benar. Pemazmur merasa Tuhan melupakan dirinya (10).

Namun, perasaan yang mencekam pemazmur ini tidak menenggelamkannya pada keputusasaan. Pemazmur tetap meyakini kasih setia Tuhan. Oleh karena itu, ia menegur dirinya sendiri, ia membangunkan kembali pengharapan dalam batinnya (6, 12, 43:5). Ia percaya dapat terus mengandalkan Tuhan. Tuhan yang adil akan menolongnya lepas dari himpitan musuh (43:1-3) sehingga ia bisa menyembah Tuhan lagi dengan segenap hatinya (43:4).

Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Betapa pun situasi sekeliling kita sepertinya tidak berpengharapan kita tak tahu kapan berakhir semua ini. ingat !! Tuhan tetap menyertai kita. Katakan pada jiwa kita , mengapa engkau tertekan? Berharaplah pada Tuhan, dan bersyukur lagi untuk kasih-Nya. Hayo semangat memasuki 2021 kita tidak sendiri Ia menyertai kita !!