IMAMAT YANG RAJANI: PANGGILAN UMAT ALLAH

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan- perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
(1 Petrus 2:9-10)

Bacaan Alkitab
Bilangan 29-30

Untuk mengerti rencana Allah bagi umat pilihan-Nya, maka Allah memanggil setiap orang yang percaya untuk menjadi saksi-Nya ke tengah-tengah dunia yang belum mengenal kasih Kristus. Orang percaya dipanggil untuk menyatakan kebesaran Tuhan, karena telah dipilih-Nya melalui karya salib-Nya. Sekarang orang yang telah dipilih-Nya bukan lagi orang yang biasa saja melainkan menjadi orang yang istimewa di hadapan Tuhan, dan Tuhan memisahkan orang percaya dari bangsa lain supaya setiap orang percaya memberitakan perbuatan besar Allah melalui karya penebusan Kristus. Jadi kita adalah orang-orang yang dipanggil keluar untuk menyatakan kehendak-Nya.
Dalam perjalanan sejarah kekristenan pada jaman kaisar Konstanti, kekristenan menjadi agama negara, maka terjadi banyak penyimpangan dalam kehidupan gereja. Penyimpangan ini disebabkan karena banyak orang yang sekedar beragama Kristen karena dipaksa oleh negara, sehingga banyak orang Kristen yang tidak mengenal Kristus dengan benar dan mungkin tidak percaya. Demikian juga yang terjadi saat ini, masih ada orang Kristen yang tidak peduli dengan isi hati Tuhan. Mereka pergi ke gereja karena mempunya keinginan untuk kepentingan diri sendiri, sehingga orang tidak lagi memikirkan apakah saya sudah menjadi gereja, tetapi yang penting adalah apakah kita sudah pergi ke gereja tempat ibadah. Hal ini yang menjadikan orang Kristen kehilangan makna dari sebuah panggilan dari Allah yang telah memanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Kita yang sudah mengenal Kristus dengan benar, marilah kita tidak lagi memikirkan kepentingan diri kita sendiri, malainkan memikirkan orang lain juga untuk berbagi kasih seperti Kristus telah mengasihi kita waktu kita masih berdosa. Kiranya kasih Kristus akan menolong kita untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita masing-masing. Amin. (AS)