IBADAH BUKAN SAMBIL LALU

⁸Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: ⁹enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, ¹⁰tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. ¹¹Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Keluaran 20)

Bacaan Alkitab
Imamat 9

Sekali waktu saya pelayanan di sebuah gereja yang yang memasang jammer yang berfungsi untuk mem-blokir sinyal sehingga HP/ smartphone tidak berfungsi di ruang ibadah tersebut dalam radius tertentu. Kosekuensinya, peralatan yang digunakan menggunakan kabel, bukan bluetooth atau transmisi² sinyal lainnya. Tindakan tersebut cukup kontroversif sekalipun preventif – menolong jemaat dapat lebih fokus dalam hal beribadah.
Sementara di beberapa gereja memiliki cara lain untuk menolong jemaat dapat beribadah dengan baik & fokus; yang lain, cukup mengingatkan dan menyerahkan ke jemaat seiring dengan kedewasaan masing² orang.
Padahal, kalau kita perhatikan 10 (sepuluh) Hukum Allah dengan jelas menyatakan bahwa hari Sabat harus diingat & dikuduskan. Kata kudus sendiri memberikan banyak arti, dan salah satunya dipisahkan, disendirikan, dikhususkan, diaturkan, dan lain sebagainya – yang dilakukan dengan sengaja; sehingga tatkala hendak memasuki Sabbat maka segala sesuatunya sudah dipersiapkan khususnya persiapan hati, termasuk menyambut dengan sukacita karena mengalami persekutuan dengan saudara seiman, khususnya dengan-Nya. Apakah sikap seperti ini masih menjadi semangat & warna ibadah orang² percaya, khususnya tatkala mereka datang, hadir di gereja untuk mengikuti ibadah? Tujuan utama sebuah ibadah adalah memenuhi undangan TUHAN – Sang Creator & Designer Ibadah – yang selalu memiliki kerinduan untuk mengalami persekutuan dengan umat-Nya. Undangan dari Sang Mahaagung ini seharusnya direspon dengan penuh hormat, bukan dengan sikap acuh tak acuh dan sambil lalu, yang penting ke gereja dan setelah lewat durasi ibadah maka kita menganggap sudah melakukan ibadah. Contoh² ekspresi² tidak hormat itu terlihat sementara ibadah kita bermain game di gadget kita; melanjutkan bisnis kita melalui chattingan yang se-akan² tidak boleh terjeda. Ibadah hanya dipahami sebagai kehadiran tubuh saja, bukan kehadiran segenap hati & pikiran – ibadah adalah presensi fisik namun absensi roh & jiwa. Ibadah yang disertai dengan hati yang takut & gentar akan TUHAN yang mata-Nya yang kudus memperhatikan setiap umat-Nya. Sikap hati yang sedemikian ini tidak mungkin akan membawa kita pada ibadah yang inspiratif – yang menghantar kita pada sebuah perjumpaan dengan Allah.
Kembali pada bacaan kita hari ini – Ingatlah & Kuduskanlah hari Sabat, TUHAN telah memberkati dengan begitu luar biasanya dalam 6 hari dengan segala aktivitasnya. TUHAN Allah menggunakan seluruh karya-Nya sebagai Role Model bagi umat-Nya. Bahkan IA sendiri menguduskan dan memberkati hari Sabat itu. (JP)