IBADAH & DISTRACT-NYA
³Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. ⁴Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. ⁵Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak²-nya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang² yang membenci Aku. (Keluaran 20)
¹Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.” . . . ⁴Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” (Keluaran 32)
Bacaan Alkitab
Imamat 13-14
Dalam draft naskah khotbah Minggu, 02 Maret lalu, dimunculkan sebuah pertanyaan dengan sebuah harapan dapat menstimulan & mendalami sebuah perenungan. Pertanyaan tersebut sebagai berikut:
● Dalam Ibadah gerejawi, hal² apa saja yang men-distract (mengalihkan) dan memalsukan kita se-olah² kita sudah mengalami perjumpaan dengan Kristus Yesus sebagai Pusat Ibadah & Penyembahan kita, padahal sebetulnya kita puas & merinding karena telah ibadah sesuai keinginan hati kita? Bandingkan Yohanes 4:21; 2 Timotius 4, dll.
Preferensi. Mungkin kita pernah mendengar istilah ini. Google mengartikan Preferensi adalah kecenderungan untuk memilih sesuatu daripada yang lain. Preferensi juga dapat diartikan sebagai pilihan, kesukaan, atau prioritas. Nah, apakah mungkin kita akan memaknai sebuah ibadah dikarenakan faktor preferensi kita? Tentunya kemungkinan itu sangat besar. Bahkan preferensi ini bisa mengalihkan & menipu se-akan² kita sudah mengalami ibadah yang inspiratif itu – mengalami perjumpaan dengan Allah. Padahal yang kita alami adalah ibadah yang sesuai dengan preferensi kita. Preferensi bisa macam²: ibadah identik dengan khotbah, identik dengan pujian, identik dengan ritual & Tata liturgianya, identik dengan style ibadahnya, identik dengan siapa pengkhotbahnya, dan lain². Padahal sebuah ibadah yang utuh merupakan rangkaian dari semua preferensi tersebut dan tidak saling meniadakan melainkan saling melengkapi.
2 Timotius 4 mencatat preferensi yang keliru dengan menolak, membuang dan bahkan meniadakan sebuah pengajaran yang sehat dan menggantikan dengan yang menyenangkan telinga. Jelas, hati yang menolak pengajaran sehat memunculkan preferensi ibadah walaupun tidak meniadakan ibadah itu sendiri. Sementara Yohanes 4:21 bisa membangun preferensi ibadah yang terkait dengan di mana kita beribadah dan di situlah kita baru merasa ibadah.
Refleksi:
Hati²-lah karena banyak hal di sekitar kita, atau hal² yang kita bangun dan kita maknai bisa men-distrack kita dari ibadah yang seharusnya TUHAN mau. (JP)