PINTAR – PINTAR BODOH
Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Roma 1
Salah satu tema seru yang diangkat dalam kitab Amsal adalah tentang hikmat, kepandaian, pengertian, pengertian dan istilah semacam itu-lah. Tentu saja acapkali dengan mengontraskan hikmat manusia dengan hikmat Allah; antara hikmat manusia dengan hikmat yang berasal dari Allah – yang selalu didahului dengan hati yang takut akan TUHAN (Band. 1:7).
Tema yang diangkat hari ini adalah PINTAR BODOH – dengan mendahulukan kata pintar & menutupnya dengan kata bodoh, karena kurang lebih demikianlah yang dimaksudkan dalam nats di atas – Mereka berbuat seolah-olah mereka PENUH HIKMAT, tetapi mereka telah menjadi BODOH. Di mana letak penuh hikmat/ kepintaran mereka (menurut dugaan mereka)? Berdasarkan teks terdekat nampaknya bisa merujuk pada anggapan mereka telah mengenal Allah, Allah telah masuk dalam pikiran & hikmat mereka, mereka mampu memberikan batasan seperti apa & siapa Allah itu. Benarkah itu kepintaran mereka yang mungkin mereka sanjung selama ini?
Berikutnya, di manakah letak kebodohan mereka? Letak kebodohan mereka justru nampak tatkala mereka berusaha untuk memaparkan apa & siapa Allah itu sendiri. Allah yang Mulia & Kekal digantikan dengan gambaran yang fana; Allah Sang Pencipta diidentikkan dengan ciptaan. Mereka pikir mereka sudah hebat dengan melakukan itu semua (ayat 23). Padahal itu adalah kebodohan.
Bila kita bandingkan Alkitab Terjemahan Baru dengan Terjemahan Lama, maka kita akan mendapatkan teks di Roma 1:22 – Dengan mengaku dirinya bijak, maka mereka itu menjadi bodoh, Hal ini justru memperkaya khazanah pemahaman kita tentang kebodohan manusia; bukan sekedar tatkala mereka bertindak seperti ayat 23 tetapi justru tatkala mereka mengaku diri bijak/ pintar – justru itulah bukti kebodohan mereka. Tidak ada cara lain untuk memperbaikinya kecuali merendahkan diri, menundukkan diri dan senantiasa membutuhkan & mengandalkan hikmat TUHAN dalam segala kebodohan kita. Simak kembali Amsal 3:7 – ⁷Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN.
-JP