BAYI YESUS & HANA
⁶Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, ⁷dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. ⁸Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. ⁹Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. (Lukas 2)
⁶Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, ⁷dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. ⁸Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. ⁹Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. (Lukas 2) Saya sangat yakin bahwa setiap kita pernah membaca atau mendengar perkataan luar biasa yang diucapkan oleh Yohanes Pembaptis – “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya”; “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”; “yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Perkataan yang akan sangat menarik bila ditinjau dan dikembangkan dengan isu opportunity dan referensi. Setidaknya melalui perkataan itu kita mengetahui tentang bagaimana Yohanes memandang Yesus, dan bagaimana Yohanes menempatkan dirinya di hadapan Yesus. Ia memberikan referensi sekaligus konfirmasi tentang Yesus. Bicara tentang konfirmasi maka tokoh kita hari ini – Hana sang nabiah itu – adalah seorang yang menerima konfirmasi dan memberi konfirmasi. Ia menerima konfirmasi, berangkat dari anggapan/ tafsiran bahwa ia seseorang yang telah menerima pewartaan tentang Kristus, menantikan-Nya dan akhirnya menyaksikan-Nya. Hana sekaligus memberikan konfirmasi tentang siapakah bayi Yesus itu khususnya bagi mereka yang menantikan kelepasan. Mungkin seperti Simeon, ia juga berharap untuk pergi dalam damai sejahtera. Perhatikanlah, mereka yang diberitahukan mengenai Kristus memiliki cukup alasan untuk bersyukur kepada Allah atas karunia yang istimewa ini. Kita harus bergembira atas tugas-tugas itu karena mendatangkan pujian dan ucapan syukur ke atas orang lain. Mengapa kita tidak mengucap syukur juga seperti mereka? Hana sepakat dengan Simeon, dan membantu membuat keserasian. Ia mengaku kepada Allah (begitulah yang bisa dibaca). Ia membuat pengakuan terbuka mengenai Anak ini. Bagaimana dengan kita? -JP