BAYI YESUS & SIMEON
⁵Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, ⁶dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. ⁷Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ⁸ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: ⁹”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, ⁰sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Lukas 2)
Musa, sebagai tokoh utama yang dipersiapkan dan dipakai TUHAN untuk membawa keluar bangsa pilihan-Nya – Israel – dari Mesir, perjalanan-nya terhenti di Gunung Nebo. Kesempatan terakhir yang TUHAN berikan adalah memandang jauh di depan-nya, tanah yang dijanjikan-Nya itu. Musa tidak hanya memandang, tetapi tidak memasukinya, tidak menikmati susu dan madu yang melimpah itu. TUHAN menguburkan Musa dengan tangan-Nya sendiri. Simeon-pun adalah seseorang yang menerima janji Allah, Simeon tidak akan mati sebelum melihat keselamatan yang datang dari Allah dan menjadi terang bagi bangsa di dalam Sang Anak yang ditatangnya itu. Ini merupakan penggenapan janji Allah yang luar biasa bagi-nya. Mesias, Jalan & Keselamatan itu sendiri, Sang Terang yang datang ke dalam dunia – ada dalam dekapan tangannya. Bukan sekedar sukacita yang luar biasa, namun Simeon menerima sebuah privilege karena ia-pun dipercayakan untuk melayani bayi Yesus (Anak Allah) dalam “tradisi” yang sesuai dengan Taurat Allah. Kesuka-citaan yang membuat Simeon-pun rela kalaupun ia harus pergi (mati), karena ia akan pergi dalam damai sejahtera. Simeon mengalami janji itu. Simeon puas dengan hidup-nya, tatkala ia berjumpa dengan Keselamatan itu. Sepantasnya setiap kita – orang percaya – mengalami sukacita dan kepuasan itu juga, karena kita bukan sekedar menyaksikan Keselamatan itu, tetapi setiap kita yang percaya kepada-Nya telah menerima dan mengalami keselamatan. Hidup kita yang kotor dan tidak layak ini telah menerima janji Allah; telah menjadi “palungan-Nya”. Kita-pun sebagai umat Allah/ Israel baru yang telah terhisap melalui SUNAT hati kita secara rohani (Roma 2:29). Terpujilah TUHAN. -JP