MENGANGGAP BIJAK

⁵Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. ⁶Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. ⁷Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; ⁸itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu. (Amsal 3)

Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah lawannya meragukan Allah dan firman-Nya. Kepercayaan semacam itu merupakan dasar bagi hubungan kita dengan Allah dan dilandaskan pada anggapan bahwa Ia dapat diandalkan. Selaku anak-anak Allah kita dapat yakin bahwa Bapa Sorgawi mengasihi kita dan dengan setia akan memelihara kita, membimbing kita dengan benar, memberikan kepada kita kasih karunia dan menggenapi janji-janji-Nya. Pada masa-masa yang paling sulit dalam kehidupan kita, kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan yakin bahwa Ia akan bertindak menolong kita.
Dengan segenap hatimu, ayat berharga ini menunjukkan kontras antara hikmat manusia pada umumnya dengan hikmat ilahi yang merupakan dasar seluruh kitab ini. Dalam bahasa Ibrani, hati secara simbolis tidak terlalu banyak dipakai untuk menggambarkan tempatnya emosi, tetapi lebih sebagai tempatnya akal budi dan kehendak. Dengan kata lain, serahkanlah dirimu yang paling dalam kepada Allah. Jangan berusaha untuk bebas dari (tidak bergantung pada) Dia. Di sinilah pergumulan yang tidak mudah bagi kita, godaan untuk mengedepankan hikmat bijaksana manusiawi selalu mengintip di hadapan kita; di saat yang genting ia selalu berusaha menyusup untuk menunjukkan siapa sih sebetulnya manusia dengan hikmatnya. Pengertian kita sendiri terbatas, dan mudah salah (Ef 4:18). Karena itu harus diterangi oleh firman Allah dan dipimpin Roh Kudus. Kita harus berdoa memohon hikmat dan kehendak Allah di dalam semua keputusan dan sasaran hidup kita daripada bersandar pada pertimbangan kita sendiri.
Tunduk dengan segala kerendahan hati: Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak. Perhatikanlah, tidak ada musuh yang lebih kuat terhadap kuasa agama dan rasa takut akan Allah di dalam hati daripada kecongkakan mengenai hikmat kita sendiri. Orang-orang yang mengandalkan kemampuan diri mereka sendiri menganggap bahwa memperhatikan dan mempertimbangan aturan- aturan keagamaan itu terlalu remeh dan hina untuk mereka lakukan, apalagi untuk merintangi diri mereka sendiri dengan aturan-aturan tersebut. Oleh karena itu hati-lah, TUHAN senantiasa menolong kita sekalian. -JP